Iri dengki datang bersamaan dengan udara lewat tak sengaja menyentuh pipi, merasa tak waras dikasihani, ditertawai, diolok-olok oleh bayanganku sendiri. Aku pun ikut tertawa di dalam hati dan tidak lupa menggerakkan tanganku yang memegang sebungkus cairan gula bercampur teh yang ingin lewat ditenggorokan juga tidak lupa jari tangan yang lain terselip rokok yang siap dihisap. Kami tertawa bersama walau memang tidak ada yang ditertawakan sebenarnya, kadang terlalu sepi juga tidaklah enak dijalani bahkan mungkin kebebasan adalah kamuflase dari kesepian. Angan-angan ketinggian, harapan terlampau besar dan semua disulut api berupa kenyataan membakar, menghanguskan semua, diperbaiki dan tetap saja terendam sepi.
Mari bersajak, menyuarakan hati yg begitu sesak