Ada harap cemas kala aku menorehkan pena, hingga suara kertas menghentakkan luka.
Seperti dahulu ketika aku disampingmu, tanpa bahagia yg tertoreh hanya luka.
Ada satu hal yg kuyakini bahwa kau tak sedang dimiliki, namun ketika aku berdiri di depan pintu yg kau beri hanya senyuman semu.
Kepalsuanmu hinggap kala berjalannya waktu. Tanpa kusadari hadirnya menggeserku untuk terganti, engkau terdiam saat kutanya siapa ? Siapa dia ? Jawaban yang kau beri hanya sesuatu yg tak pasti. Lamunan hari selalu saja tentang senyum indah di bibirmu.
Kipas yg berputar tak mampu mendinginkan hati yg bergetar, saat dia menggeserku tanpa tau siapa yg sedang didekatmu, aku tersadar terkapar tanpa sinar dimata bundar, yang ku tau adalah apa yg kau mau dan itu bukan aku...
Mencintaimu.
Adalah kata kerja yang pernah kugunakan dengan penuh penyesalan. Mencintaimu, adalah melepas emosi kesempurnaan yang tertuju pada satu keindahan. Mencintaimu adalah mengubur segala rasa hingga air mata mengucur.
Meratapi segala janji yang nyatanya takkan pernah kau beri.. hingga kini aku menyadari janjimu adalah segala pahit yang menusuk nurani
Comments
Post a Comment