Skip to main content

Buku polos yang menunggu terisi

Merajut asa, melihatmu sungguh aku terpesona

Seperti minum di siang hari, tenggorokanku tak akan pernah puas setelah di banjiri , oleh butir2 air yang mengalir menerobos masuk kedalam kerongkongan dan membasahi kenangan.

kenanganku mulai basah bahkan didalamnya tidak ada lagi kata marah, kenangan yang basah aku jadikan tinta untuk cerita aku akan berubah.


Yang ku butuhkan kini hanya buku yang akan kuisi dengan indah senyummu, melupakan segala masa lalu sembari bersama kita memulai yang baru, jiwaku yang biasanya berontak tak lagi mengamuk dalam teriak 
Ia lebih tenang dia ternyata sudah tau betapa indahnya menunggu. menunggumu tanpa sabar, menunggumu untuk segera sadar. 

Sadar bahwa aku dengan segala kekurangan ingin memberikan cinta yang penuh kesempurnaanWalau aku tak mempunyai materi sebanyak dia tapi aku percaya cintaku lebih berharga, cinta tak pernah mendustai tuannya.

Segala perasaan sakit sebenarnya hanya ujian apakah aku kuat atau memang menyalahkan waktu karena terlambat. Terlambat memahami, pilihanmu dulu memang yang paling patut dihargai 
Mau bagaimanapun yang terjadi dulu memanglah sudah berlalu , mari kita yang sekarang berdamai dengan waktu.

Buku yang aku simpan biarkan aku keluarkan, kita bisa mengisi judulnya dan kita pula yang akan menulis isinya :)

Comments

Popular posts from this blog

Overload

Keping demi keping kaset aku jejalkan kedalam cd-rom notebookku, entah dia kuat atau tidak menahan begitu banyak memori itu. Seperti hukum katalis sebab akibat, kita akan kuat jika tidak terlalu berat, mirisnya kenangan yang telah terlewat adalah salah satu penghancur memori sebenarnya. Di balik kenangan indah akan selalu terselip duri lancip yang menusuk jeroan hingga kenangan kenangan bahagia membusuk karena enggan.. Mendaur ulang semua ingatan pahit karena ruang semakin sempit, Hancukan dengan bom senyuman... Caci maki dengan kata2 kebahagiaan... Injak dengan perasaan yang enggan beranjak... Pergi dengan tujuan untuk kembali... Ntahlah... yang terjelas kini adalah selalu ada terik terang saat cahaya di sorotkan , walau kecil aku sudah berani mencicil. Langkah demi langkah aku coba menapakkan harapanku pada pijakan baru , menyusuri kerumunan yang penuh dengan nyanyian. Yang busuk tak selamanya tak berarti ia juga bisa menjadi pupuk untuk hati yang lelah menunggu ...

Penyendiri Kronis

Seseorang penyendiri melewati mimpi tanpa tertutup matanya, terbangun tanpa membuka mata, meneguk pahit sementara semua orang memakan manisan, mendengar bisikan sementara dia rindu kata yang jelas. Bosan sahabat baiknya, sedang bahagia pergi dengan mencaci maki, mengapa kau tak bertanya bagaimana mungkin? Pilihan sulit menjerumuskan katanya dengan menggaruk kulit di antara rambut. Mengapa tak menemukan pilihan baru, dia cuma debu yang ditiup kesana kemari oleh angin , entah angin buatan atau pun yang sejati .. Prasangka buruk pola pikirnya, entah teracuni apa yang sudah di alami ataupun memang naluri penyendiri, pemikiran sempit mungkin sudah sesak dengan kotak berisi harapan yang hilang hanyut dari permukaan bahagia..

Simple past tense

Ada harap cemas kala aku menorehkan pena, hingga suara kertas menghentakkan luka. Seperti dahulu ketika aku disampingmu, tanpa bahagia yg tertoreh hanya luka. Ada satu hal yg kuyakini bahwa kau tak sedang dimiliki, namun ketika aku berdiri di depan pintu yg kau beri hanya senyuman semu. Kepalsuanmu hinggap kala berjalannya waktu. Tanpa kusadari hadirnya menggeserku untuk terganti, engkau terdiam saat kutanya siapa ? Siapa dia ? Jawaban yang kau beri hanya sesuatu yg tak pasti. Lamunan hari selalu saja tentang senyum indah di bibirmu. Kipas yg berputar tak mampu mendinginkan hati yg bergetar, saat dia menggeserku tanpa tau siapa yg sedang didekatmu, aku tersadar terkapar tanpa sinar dimata bundar, yang ku tau adalah apa yg kau mau dan itu bukan aku... Mencintaimu.  Adalah kata kerja yang pernah kugunakan dengan penuh penyesalan. Mencintaimu, adalah melepas emosi kesempurnaan yang tertuju pada satu keindahan. Mencintaimu adalah mengubur segala rasa hingg...