Skip to main content

Sebab Dayaku Tidak Sempurna

Berat.. sungguh berat memang menjalani sesuatu dengan kesendirian yang harapannya belum juga terpampang, kekosongan perhatian jadi alasan utama atas segala kelelahan, suntikan semangat dari alam bawah sadarku tak cukup menenangkan hati ia lewat begitu saja saat di persimpangan nurani, mungkin suaranya tak cukup jelas atau memang sengaja dibuat samar-samar dengan akibatnya aku tak cukup memahami dan mendengar..

Pada kesempatan kecil aku telat untuk mengambil, ingin rasanya aku kondisikan hari-hariku dengan dia disampingku menemani segala sepiku dan membagikan secercah cerita yang terlampau biasa namun dapat mengisi segala sepi akibat ditinggal pergi, dengan kondisi itu mungkin kesepian akan enggan berdatangan karna kau akan ada diantara ucapan sepi misterius yang terus menerus memanggil memintaku sadar atas segala mimpi yang nyatanya tak begitu benar..

Dan akhirnya kehidupan nyata segera muncul menampakkan keganasannya memecah segala kondisi yang aku bicarakan tadi, dengan kesadaran aku ingin berdamai terhadap kenyataan
Sebab dayaku tak pernah sanggup jika aku terus berlari..



( Bagai Korek dibelakang yang akan kalah jelas dengan yang terdepan )

Comments

Popular posts from this blog

Rendaman sepi

Iri dengki datang bersamaan dengan udara lewat tak sengaja menyentuh pipi, merasa tak waras dikasihani, ditertawai, diolok-olok oleh bayanganku sendiri. Aku pun ikut tertawa di dalam hati dan tidak lupa menggerakkan tanganku yang memegang sebungkus cairan gula bercampur teh yang ingin lewat ditenggorokan juga tidak lupa jari tangan yang lain terselip rokok yang siap dihisap. Kami tertawa bersama walau memang tidak ada yang ditertawakan sebenarnya, kadang terlalu sepi juga tidaklah enak dijalani bahkan mungkin kebebasan adalah kamuflase dari kesepian. Angan-angan ketinggian, harapan terlampau besar dan semua disulut api berupa kenyataan membakar, menghanguskan semua, diperbaiki dan tetap saja terendam sepi.

Penyendiri Kronis

Seseorang penyendiri melewati mimpi tanpa tertutup matanya, terbangun tanpa membuka mata, meneguk pahit sementara semua orang memakan manisan, mendengar bisikan sementara dia rindu kata yang jelas. Bosan sahabat baiknya, sedang bahagia pergi dengan mencaci maki, mengapa kau tak bertanya bagaimana mungkin? Pilihan sulit menjerumuskan katanya dengan menggaruk kulit di antara rambut. Mengapa tak menemukan pilihan baru, dia cuma debu yang ditiup kesana kemari oleh angin , entah angin buatan atau pun yang sejati .. Prasangka buruk pola pikirnya, entah teracuni apa yang sudah di alami ataupun memang naluri penyendiri, pemikiran sempit mungkin sudah sesak dengan kotak berisi harapan yang hilang hanyut dari permukaan bahagia..

Aku orangnya? Bukan!

Berkecamuk rasa yang kusimpan semakin menumpuk, sayangnya belum ada perantara yang enggan menerima, dengan segala kekurangan yang bahkan menengoknya pun belum ada yang berkenan, sempat aku terpesona pada sesosok hati tapi mendekati aku belum berani, sebab perih dari masa lalu masih saja menggangu perasaanku, ini seperti rantai yang membuat perasaan hanya berani mengintai, dari jauh itu pun tak sepenuhnya, semakin kupikir semakin susah perasaan untuk mengukir, mengukir nama yang baru tetap saja aku terlampau tak berani menginjakkan hati dengan semangat terkunci.. Terbesit tanya yang besar, aku kah orangnya? Yang mungkin akan mendapatkan cinta yang sebenarnya, namun tentu saja jawaban yang benar adalah bukan! Bukan aku orangnya.. Mana mungkin gagak akan menemukan merpati yang tersesat, yang mau mendampingi dengan segala perbedaan pasti, merpati dengan segala keindahannya didamba oleh gagak yang dipandang pun tak mengenakkan apalagi di pelihara.. Dengan mengandai secara pintar...