Skip to main content

Nomor Punggung 1

Selalu di belakang, mengamati awal hingga akhir serangan. Walau selalu tertinggal namun akan tetap tenang, bagai pahlawan namun tak dikenang, iya memang begitu kenyataannya.
Saat yang didepan terlambat untuk kembali dia akan tetap disini, dengan alasan sebagai pertahan terakhir walau namanya tak pernah terukir, walau bisa menepis namun harapan akan mulai menipis. Saat bola menggulir melewati, perasaan dingin segera menghinggapi. Bola lewat begitu saja saat sudah mencoba untuk menggapainya..


Betapa indah saat itu ketika aku masih menjadi dia, ketika semua permulaan tercipta, dengan kawan-kawan masa kecilku di desa, kami selalu memainkan bola diterik senja hingga waktu pun terlupa. Saling bertukar posisi hingga tau masing-masing menemukan yang mereka mau. Aku memilih menjaga gawang karena aku sadar aku bukan pengejar yang baik, letihku hanya sia-sia sebab aku tak bisa mengejarnya lebih baik aku menunggu dan mencoba menangkap setidaknya itu yang bisa aku lakukan dan yang kurasa memang pas untuk diriku.

Namun kini aku tak sehebat dulu, timbunan lemak sudah menelan naluriku menjaga gawang , mungkin kini ketika bola menghampiriku aku sudah tak punya keberanian menangkapnya aku yang sekarang akan menghindar demi ketenangan diri yang tak kuinginkan untuk pudar.. rasa sakit berusaha yang berujung sia-sia juga membelenggu untuk aku tidak mau lagi menunggu...

( Dulu.. saat aku masih berjuang menangkap bola dan menangkapmu )

Comments

Popular posts from this blog

Overload

Keping demi keping kaset aku jejalkan kedalam cd-rom notebookku, entah dia kuat atau tidak menahan begitu banyak memori itu. Seperti hukum katalis sebab akibat, kita akan kuat jika tidak terlalu berat, mirisnya kenangan yang telah terlewat adalah salah satu penghancur memori sebenarnya. Di balik kenangan indah akan selalu terselip duri lancip yang menusuk jeroan hingga kenangan kenangan bahagia membusuk karena enggan.. Mendaur ulang semua ingatan pahit karena ruang semakin sempit, Hancukan dengan bom senyuman... Caci maki dengan kata2 kebahagiaan... Injak dengan perasaan yang enggan beranjak... Pergi dengan tujuan untuk kembali... Ntahlah... yang terjelas kini adalah selalu ada terik terang saat cahaya di sorotkan , walau kecil aku sudah berani mencicil. Langkah demi langkah aku coba menapakkan harapanku pada pijakan baru , menyusuri kerumunan yang penuh dengan nyanyian. Yang busuk tak selamanya tak berarti ia juga bisa menjadi pupuk untuk hati yang lelah menunggu ...

Penyendiri Kronis

Seseorang penyendiri melewati mimpi tanpa tertutup matanya, terbangun tanpa membuka mata, meneguk pahit sementara semua orang memakan manisan, mendengar bisikan sementara dia rindu kata yang jelas. Bosan sahabat baiknya, sedang bahagia pergi dengan mencaci maki, mengapa kau tak bertanya bagaimana mungkin? Pilihan sulit menjerumuskan katanya dengan menggaruk kulit di antara rambut. Mengapa tak menemukan pilihan baru, dia cuma debu yang ditiup kesana kemari oleh angin , entah angin buatan atau pun yang sejati .. Prasangka buruk pola pikirnya, entah teracuni apa yang sudah di alami ataupun memang naluri penyendiri, pemikiran sempit mungkin sudah sesak dengan kotak berisi harapan yang hilang hanyut dari permukaan bahagia..

Simple past tense

Ada harap cemas kala aku menorehkan pena, hingga suara kertas menghentakkan luka. Seperti dahulu ketika aku disampingmu, tanpa bahagia yg tertoreh hanya luka. Ada satu hal yg kuyakini bahwa kau tak sedang dimiliki, namun ketika aku berdiri di depan pintu yg kau beri hanya senyuman semu. Kepalsuanmu hinggap kala berjalannya waktu. Tanpa kusadari hadirnya menggeserku untuk terganti, engkau terdiam saat kutanya siapa ? Siapa dia ? Jawaban yang kau beri hanya sesuatu yg tak pasti. Lamunan hari selalu saja tentang senyum indah di bibirmu. Kipas yg berputar tak mampu mendinginkan hati yg bergetar, saat dia menggeserku tanpa tau siapa yg sedang didekatmu, aku tersadar terkapar tanpa sinar dimata bundar, yang ku tau adalah apa yg kau mau dan itu bukan aku... Mencintaimu.  Adalah kata kerja yang pernah kugunakan dengan penuh penyesalan. Mencintaimu, adalah melepas emosi kesempurnaan yang tertuju pada satu keindahan. Mencintaimu adalah mengubur segala rasa hingg...