Selalu di belakang, mengamati awal hingga akhir serangan. Walau selalu tertinggal namun akan tetap tenang, bagai pahlawan namun tak dikenang, iya memang begitu kenyataannya.
Saat yang didepan terlambat untuk kembali dia akan tetap disini, dengan alasan sebagai pertahan terakhir walau namanya tak pernah terukir, walau bisa menepis namun harapan akan mulai menipis. Saat bola menggulir melewati, perasaan dingin segera menghinggapi. Bola lewat begitu saja saat sudah mencoba untuk menggapainya..
Betapa indah saat itu ketika aku masih menjadi dia, ketika semua permulaan tercipta, dengan kawan-kawan masa kecilku di desa, kami selalu memainkan bola diterik senja hingga waktu pun terlupa. Saling bertukar posisi hingga tau masing-masing menemukan yang mereka mau. Aku memilih menjaga gawang karena aku sadar aku bukan pengejar yang baik, letihku hanya sia-sia sebab aku tak bisa mengejarnya lebih baik aku menunggu dan mencoba menangkap setidaknya itu yang bisa aku lakukan dan yang kurasa memang pas untuk diriku.
Namun kini aku tak sehebat dulu, timbunan lemak sudah menelan naluriku menjaga gawang , mungkin kini ketika bola menghampiriku aku sudah tak punya keberanian menangkapnya aku yang sekarang akan menghindar demi ketenangan diri yang tak kuinginkan untuk pudar.. rasa sakit berusaha yang berujung sia-sia juga membelenggu untuk aku tidak mau lagi menunggu...
![]() |
( Dulu.. saat aku masih berjuang menangkap bola dan menangkapmu ) |
Comments
Post a Comment