Kembali lagi setelah sekian lama menjalani hari mencoba mencari tempat untuk melabuhkan hati, ternyata sama saja selalu putar balik dengan alasan aku tidak bisa meluluhkan hatinya, selalu saja ada seseorang yang lebih mengalahkanku untuk mendapatkanmu, aku bukannya tidak mencoba memperbaiki diri dan mengabaikannya namun tetap sama saja yang dialami. Pernah ketika kita sering saling bertukar kata di hari-hari aku mulai menemukanmu, sepertinya cocok kataku kau sedang sendiri aku pun sama, mungkin kamu tertarik denganku akupun juga, dan aku merasakan seperti nge-klik denganmu dan hari-hari kulewati dengan selalu menyapa selamat pagi kepadamu walau hanya lewat chat saja. Dan kebosanan pun mulai datang karena hanya lewat chat saja kita dekat, mungkin ini kesalahku karena aku pengecut yang tak berani mendatangi rumahmu dan mengajak ngobrol langsung karena aku selalu merasa tidak percaya dengan diri sendiri yang takut engkau melihat segala kekuranganku. ...
Menepi diantara jalur mencintaimu, kekasihmu adalah alasan aku berhenti di zona jalur darurat memeriksa perasaan yang ternyata bocor kempes tak bersisa.. Terlampau lama memang ketika aku mulai melaju pelan tiba-tiba hubunganmu dengan dia terjadi menghadangku ditengah aku ingin memperjuangkan rasa.. Kau memilihnya dengan segala kehebatan yang ada, melupakan aku yang ternyata hanya pengisi notifikasi layar handphonemu ketika sepi, menendangku jauh-jauh ketika aku mulai menunggu notifikasi darimu, menutup hati ketika kau punya yang baru untuk notifikasi.. Berbodoh ria dengan khayalan aku bisa menjadi dia yang kau inginkan, aku ada ketika kau butuh bantuan, aku siap menyemangatimu ketika kau butuh dorongan, namun semua hanya hal bodoh dalam khayalan.. Nyatanya aku hanya menikmati sesekali waktu bertemu denganmu ketika kau sudi meminta bantuanku, betapa bahagia ketika hal itu terjadi dan setelahnya kosong tak bersisa kembali..